40 HADIS TENTANG PEREMPUAN
40 HADIS TENTANG PEREMPUAN
Disusun oleh: Noer Fathia Efendi (Mahasantri Semester 3)
Darus Sunnah, 23 November 2023
HADIS KE-1 “WANITA MANA PALING UTAMA?”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:
«قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ
خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا
تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.[1]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah berkata, dikatakan kepada Rasulullah Saw: Wanita mana yang paling
utama?” Beliau menjawab, Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, dan
mentaatinya jika ia memerintahkannya dan tidak menyelisihinya dalam diri dan
hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.”
HADIS KE-2 “WANITA SHALIHAH”
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ : أَنَّ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الدُّنْيَا كُلَّهَا
مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.[2]
Artinya: “Dari
Abdullah bin Amr bin Ash’ bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya dunia
seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita
shalihah.”
HADIS KE-3 “SIAPA YANG DINIKAHI? BAGAIMANA WANITA YANG BAIK? DAN
ANJURAN BAGI LAKI-LAKI MEMILIH WANITA”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ :خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ
الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ،
وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ.[3]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah dari Nabi Saw. Beliau bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah yang
dapat mengendarai unta. Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling lembut
dan simpati pada anak dimasa kecilnya, dan paling bisa menjaga harta suaminya.”
HADIS KE-4 “BUBUR (MAKANAN TERBAIK MASA ITU)”
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ
كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ: إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ،
وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ
الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ.[4]
Artinya: “Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Nabi Saw beliau bersabda, “
Kaum lelaki yang sempurna sudah sekian banyak, namun dari kaum wanita belum ada
yang sempurna, kecuali Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir’aun. Dan
keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan bubur atas semua
jenis makanan.”
HADIS KE- 5 “MELURUSKAN BARISAN DAN KEUTAMAAN SHAF PERTAMA”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا
آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا.[5]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “Sebaik-baik shaf kaum
laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah pada akhirnya. Dan
sebaik-baiknya shaf wanita adalah akhirnya, dan sejelek-jeleknya adalah awal
shaf.”
HADIS KE-6 “KEBANYAKAN PENDUDUK SURGA ADALAH ORANG FAKIR, DAN
KEBANYAKAN PENDUDUK NERAKA ADALAH WANITA”
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ
مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا،
وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي
النِّسَاءِ.» فِي حَدِيثِ ابْنِ بَشَّارٍ: لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ .[6]
Artinya: ‘Dari
Abu Said Alkhudri, dari Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis. Dan
sesungguhnya Allah telah menguasakannya padamu sekalian. Kemudian Allah
menunggu (memperhatikan) apa yang kalian kerjakan. Karena itu berhati-hatilah
pada dunia dan berhati-hatilah pada wanita, karena sesungguhnya awal mula
sumber fitnah Bani Israil adalah wanita.”
HADIS KE-7 “WANITA BERPAKAIAN TAPI TELANJANG”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا:
قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ،
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ
الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا،
وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا.[7]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua golongan penduduk
neraka yang keduanya belum pernah kulihat, yaitu; suatu kaum yang mebawa cambuk
seperti seekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. Dan
wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (karena minimnya pakaian, tipis
atau tembus pandang, ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena terbuka),
berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (dihias)
bagaikan punuk unta, Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk surga, dan tidak
akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat tercium dari jarak sekian,
sekian.”
HADIS KE-8 “TIDAK MENIKAHI WANITA SEKALIGUS MENIKAHI BIBINYA”
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُزَوَّجَ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا
أَوْ عَلَى خَالَتِهَا وَأَبُو حَرِيزٍ اسْمُهُ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُسَيْنٍ حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْأَعْلَى عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ.[8]
Artinya: “Dari
Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw. melarang wanita dinikahi dalam
waktu yang bersamaan dengan bibinya, baik bibi dari bapak atau bibi dari ibu.
Abu Hariz bernama Abdullah bin Hushain. Telah mengabarkan kepada kami Nashr bin
Ali, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la dari Hisyam bin Hassan dari Ibnu
Sirrin dari Abu Hurairah dari Nabi Saw. dengan lafazh
yang sama.”
HADIS KE-9 “HAK ISTRI ATAS SUAMI”
عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا
سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَقُّ الْمَرْأَةِ عَلَى
الزَّوْجِ؟ قَالَ: «أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ، وَأَنْ يَكْسُوَهَا إِذَا
اكْتَسَى، وَلَا يَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا يُقَبِّحْ، وَلَا يَهْجُرْ إِلَّا فِي
الْبَيْتِ.[9]
Artinya: “Dari
Hakim bin Muawiyah dari Bapaknya, bahwa seorang lelaki bertanya pada Nabi Saw,
“Apa hak seorang wanita atas suaminya?” Beliau menjawab: “Memberi makan padanya
apabila ia makan, memberi pakaian padanya apabila ia berpakaian, tidak memukul
wajah, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak mendiamkannya kecuali didalam
rumah.”
HADIS KE-10 “MUSNAD JABIR BIN ABDILLAH”
أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ
عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: " زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا.[10]
Artinya: “Telah
mengabarkan padaku Abu Zubair, telah mendengar Zabis bin Abdillah berkata, Nabi
Saw. Melarang seorang wanita menyambung rambutnya dengan rambut palsu.”
HADIS KE-11 “BERBICARA PADA ISTRI DENGAN SINDIRAN”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ المَرْأَةَ كَالضِّلَعِ إِنْ ذَهَبْتَ
تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنْ تَرَكْتَهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا عَلَى عِوَجٍ»
وَفِي البَاب عَنْ أَبِي ذَرٍّ، وَسَمُرَةَ، وَعَائِشَةَ.: «حَدِيثُ أَبِي
هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ، وَإِسْنَادُهُ
جَيِّدٌ.[11]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya wanita itu
seperti tulang rusuk, jika kamu ingin meluruskannya maka kamu akan
mematahkannya. Dan jika kamu membiarkannya maka kamu bisa bersenang-senang dengannya
namun masi dalam keadaan bengkok.”
HADIS KE-12 “WANITA YANG PALING UTAMA”
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى
اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ، إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ،
وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ،
وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.[12]
Artinya: “Dari
Umamah, dari Nabi Saw. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi
seorang mukmin setelah takwa kepada Allah selain istri yang sholeha. Jika suami
memerintahnya ia akan taat, jika dipandang menyenangkan, jika dia membagi
(giliran) untuknya ia menerima, dan jika suami tidak ada, ia menjaga kehormatan
diri dan hartanya.”
HADIS KE-13 “MUSNAD SAYYIDAH AISYAH RA.”
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: " تُزَوَّجُ الْمَرْأَةُ لِثَلَاثٍ: لِمَالِهَا
وَجَمَالِهَا وَدِينِهَا، فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.[13]
Artinya: “Dari
‘Aisyah Ra. Bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, “Wanita dinikahi atas
tiga perkara; karena hartanya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah
karena agamanya maka kamu akan beruntung.”
HADIS KE- 14 “MAHAR WANITA”
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: كَمْ كَانَ
صَدَاقُ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتْ: «كَانَ
صَدَاقُهُ فِي أَزْوَاجِهِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَنَشًّا، هَلْ تَدْرِي
مَا النَّشُّ؟ هُوَ نِصْفُ أُوقِيَّةٍ، وَذَلِكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ.[14]
Artinya: “Dari
Abu Salamah ia berkata, aku bertanya pada ‘Aisyah, “Berapa jumlah mahar
istri-istri Nabi Saw.? ia menjawab, “Mahar beliau untuk istri-istrinya sebesar
dua belas uqiyah dan satu nasyy. Apakah kamu tahu berapa satu nasyy itu? Satu
nassy adalah setengah uqiyah. Dan jumlah keseluruhannya adalah lima ratus
dirham.”
HADIS KE-15 “SHOLATNYA WANITA TANPA KERUDUNG”
عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَار.[15]»
Artinya: “Dari
‘Aisyah ra. Dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda, “Allah tidak menerima
salat wanita yang sudah haidh (baligh) kecuali dengan memakai penutup kepala.”
HADIS KE-16 “APAKAH WANITA MELEPAS KEPANG RAMBUT SAAT MANDI
JANABAH?”
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي
امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الجَنَابَةِ؟ قَالَ: «لَا
إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍ،
ثُمَّ تُفِيضِي عَلَى سَائِرِ جَسَدِكِ المَاءَ،
فَتَطْهُرِينَ»، أَوْ قَالَ: «فَإِذَا أَنْتِ قَدْ تَطَهَّرْتِ»، هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
صَحِيحٌ " وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ: أَنَّ المَرْأَةَ إِذَا
اغْتَسَلَتْ مِنَ الجَنَابَةِ فَلَمْ تَنْقُضْ شَعْرَهَا أَنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُهَا
بَعْدَ أَنْ تُفِيضَ المَاءَ عَلَى رَأْسِهَا.[16] "
Artinya: “Dari
Ummu Salamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang
wanita yang biasa mengencangkan tali ikatan rambut (kepang), jika aku mandi
junub, apakah aku harus melepasnya?” beliau menjawab, “Tidak, tapi cukup engkau
tuangkan di atas kepalamu tiga tuangan air, setelah itu alirkan air keseluruh
tubuhmu maka engkau akan suci, atau beliau bersabda, “Engkau telah suci”.
HADIS KE-17 “MEMUKUL WANITA”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ، قَالَ: خَطَبَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ ذَكَرَ النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُمْ
فِيهِنَّ، ثُمَّ قَالَ: «إِلَامَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ
الْأَمَةِ؟ وَلَعَلَّهُ أَنْ يُضَاجِعَهَا مِنْ آخِرِ يَوْمِهِ.[17]
Artinya: “Dari
Abdullah bin Zam’ah ia berkata, “Nabi Saw berkhotbah, beliau menyebut-nyebut
wanita dan menasihati para sahabat atas perkara mereka. Kemudian beliau
bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya layaknya budak,
kemudian dihari lain menggaulinya.”
HADIS KE-18 “WANITA MENGENAKAN WEWANGIAN UNTUK KELUAR RUMAH”
، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: «لَقِيَتْهُ امْرَأَةٌ وَجَدَ
مِنْهَا رِيحَ الطِّيبِ يَنْفَحُ وَلِذَيْلِهَا إِعْصَارٌ فَقَالَ: يَا أَمَةَ
الْجَبَّارِ جِئْتِ مِنَ الْمَسْجِدِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: وَلَهُ
تَطَيَّبْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ حِبِّي أَبَا الْقَاسِمِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ لِامْرَأَةٍ
تَطَيَّبَتْ لِهَذَا الْمَسْجِدِ حَتَّى تَرْجِعَ فَتَغْتَسِلَ غُسْلَهَا مِنَ
الْجَنَابَةِ» قَالَ أَبُو دَاوُدَ : الْإِعْصَارُ غُبَارٌ.[18]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah ia berkata, “Ia bertemu seorang wanita dan mencium bau harum
darinya, dan ujung pakaiannya menjuntai (menyapu tanah). Ia lalu berkata,
“Wahai budak Al Jabbar, apakah engkau datang dari masjid?” wanita itu menjawab,
“Ya.” Abu Hurairah lalu berkata, “Sesungguhnya aku mendengar kekasihku, Abu Al
Qasim Saw bersabda, “Tidak akan diterima salat seorang wanita yang memakai
wewangian karena ingin pergi ke masjid ini, sehingga ia kembali dan mandi
sebagaimana ia mandi junub.” Abu Daud berkata, “Al I’shar maksudnya adalah
debu.”
HADIS KE-19 “JANGAN LAH WANITA MEMINTA MADUNYA UNTUK DICERAIKAN”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَسْأَلِ المَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا
لِتَكْفِئَ مَا فِي إِنَائِهَا» وَفِي البَاب عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ.: «حَدِيثُ
أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.[19]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah hingga sampai kepada Nabi Saw. beliau bersabda, “Janganlah seorang
wanita meminta (seseorang) menceraikan istrinya agar orang tersebut dapat
memperistrinya (hingga memenuhi kebutuhannya).”
HADIS KE-20 “DIMAKRUHKAN WUDHU DENGAN SISA AIR WANITA”
عَنْ أَبِي حَاجِبٍ، عَنْ رَجُلٍ، مِنْ بَنِي غِفَارٍ، قَالَ:
«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ فَضْلِ طَهُورِ
المَرْأَةِ». وَفِي البَابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ. وَكَرِهَ بَعْضُ
الفُقَهَاءِ الوُضُوءَ بِفَضْلِ طَهُورِ المَرْأَةِ، وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ،
وَإِسْحَاقَ: كَرِهَا فَضْلَ طَهُورِهَا، وَلَمْ يَرَيَا بِفَضْلِ سُؤْرِهَا
بَأْسًا.[20]
Artinya: “Dari
Abu Hajib dari seorang laki-laki dari Bani Ghifar, ia berkata, “Rasulullah Saw.
melarang dari sisa air mandi wanita.”
HADIS KE-21 “WANITA YANG MENYAKITI SUAMINYA”
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ :قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ
زَوْجَهَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ
قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ أَوْشَكَ أَنْ يُفَارِقَكِ
إِلَيْنَا.[21]
Artinya: “Dari
Muadz bin Jabal ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda,” Tidaklah seorang istri
menyakiti suaminya melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata,
“Semoga Allah membunuhmu, janganlah engkau menyakitinya. Ia disisimu hanyalah
tamu yang setiap saat bisa meninggalkanmu untuk kami.”
HADIS KE-22 “SEORANG WANITA MENAWARKAN DIRINYA KEPADA LELAKI
SHALEH”
سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِيَّ قَالَ كُنْتُ
عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا
قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ فَقَالَتْ
بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ
خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَ.[22]
Artinya: “Aku
mendengar Tsabit Al Bunani berkata, Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia
memiliki anak wanita. Anas berkata, “Ada seorang wanita datang kepada
Rasulullah Saw. lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata,
“Wahai Rasulullah Saw. apakah engkau berhasrat padaku (ingin menikahi)?.” Lalu
anak wanita Anas berkomentar, “Alangkah sedikit rasa malunya.” Anas berkata,
“Wanita itu lebih baik daripada dirimu, sebab ia menyukai Nabi Saw. hingga ia
menghibahkan dirinya kepada beliau.”
HADIS KE-23 “MELIHAT CALON WANITA SEBELUM MENIKAHINYA”
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُكِ فِي الْمَنَامِ يَجِيءُ بِكِ الْمَلَكُ فِي
سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ فَقَالَ لِي هَذِهِ امْرَأَتُكَ فَكَشَفْتُ عَنْ وَجْهِكِ
الثَّوْبَ فَإِذَا أَنْتِ هِيَ فَقُلْتُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
يُمْضِهِ.[23]
Artinya: “Dari
‘Aisyah ra. Ia berkata, Rasulullah Saw. pernah bersabda padaku, “Aku melihatmu
dialam mimpiku. Kamu dibawa oleh malaikat dengan bertutupkan kain sutera, lalu
malaikat itu berkata padaku, “Ini adalah istrimu.” Maka akupun menyingkap kain
yang menutupi wajahmu, dan ternyata wanita itu adalah kamu. Maka aku pun
berkata, “kalau hal ini datangnya dari Allah, maka Allah pasti akan
menjadikannya kenyataan.”
HADIS KE-24 “WANITA TIDAK BOLEH MENERIMA LELAKI LAIN DIRUMAH
SUAMINYA KECUALI DENGAN IZIN”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا
شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا
أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ
شَطْرُهُ وَرَوَاهُ أَبُو
الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ.[24]
Artinya: “Dari
Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita
untuk berpuasa sementara suaminya ada dirumah, kecuali dengan seizinnya. Dan
tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya kecuali dengan seizinnya.
Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus
dikembalikkan pada suaminya.”
HADIS KE-25 “MENGGAULI WANITA YANG MENYUSUI”
عَنْ عَائِشَةَ عَنْ جُدَامَةَ بِنْتِ وَهْبٍ الْأَسَدِيَّةِ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنْ الْغِيلَةِ
حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ قَالَ مُسْلِم وَأَمَّا خَلَفٌ فَقَالَ عَنْ
جُذَامَةَ الْأَسَدِيَّةِ وَالصَّحِيحُ مَا قَالَهُ يَحْيَى بِالدَّال"[25]
Artinya: “Dari
Jumadah binti Wahb Al Asadiyyah bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya saya bertekad untuk melarang ghilah (yaitu menyetubuhi istri yang
sedang menyusui), akan tetapi saya perhatikan orang-orang Romawi dan Persia
melakukan ghilah, namun hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.”
HADIS KE-26 “WANITA YANG DINIKAHI DUA WALI”
عنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَوْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ
زَوَّجَهَا وَلِيَّانِ لَهَا فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا وَأَيُّمَا رَجُلٍ
بَاعَ بَيْعًا مِنْ رَجُلَيْنِ فَهُوَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا حَدَّثَنَا عَفَّانُ
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ
سَمُرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ.[26]
Artinya: “Dari
Uqbah bin ‘Amir atau Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Siapapun wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka wanita itu untuk
wali yang pertama dari keduannya. Dan siapapun laki-laki yang menjual barang
dagangannya kepada dua orang, maka barang tersebut untuk orang yang pertama
dari keduanya.”
HADIS KE-27 “LARANGAN WANITA BERIDDAH UNTUK BERHIAS”
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَحِدُّ الْمَرْأَةُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ إِلَّا عَلَى
زَوْجٍ فَإِنَّهَا تَحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا لَا تَلْبَسُ
ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ وَلَا تَكْتَحِلُ وَلَا تَمَسُّ طِيبًا
إِلَّا فِي أَدْنَى طُهْرِهَا إِذَا اغْتَسَلَتْ مِنْ مَحِيضِهَا نُبْذَةً مِنْ
كُسْتٍ وَأَظْفَارٍ.[27]
Artinya: “Dari
Ummu ‘Athiyyah dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Tidak boleh seorang wanita
berkabung melebihi tiga hari, kecuali terhadap suaminya, maka ia berkabung
selama empat bulan sepuluh hari, dan tidak boleh menggunakan pakaian yang
berwarna warni, melainkan hanya memakai pakaian yang kasar (kain beludru), dan
tidak boleh menggunakan celak mata, dan tidak boleh memakai wewangian kecuali
jika masa iddahnya telah habis, maka diperbolehkan baginya memakai qusth dan
adzfar (sejenis pohon yang harum baunya).”
HADIS KE-28 “CEMBURU”
٢١٣٣ - عَنْ
الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ إِنَّ بَنِي
هِشَامِ بْنِ الْمُغِيرَةِ اسْتَأْذَنُونِي أَنْ يُنْكِحُوا ابْنَتَهُمْ عَلِيَّ
بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَلَا آذَنُ لَهُمْ ثُمَّ لَا آذَنُ لَهُمْ ثُمَّ لَا آذَنُ
لَهُمْ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي
وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ فَإِنَّمَا هِيَ بَضْعَةٌ مِنِّي يَرِيبُنِي مَا رَابَهَا
وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.[28]
Artinya: “Dari
Al Miswar bin Makhramah ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda di atas mimbar, "Bani Hisyam Ibnul Mughirah meminta
izin kepadaku untuk menikahkan putri-putri mereka dengan Ali bin Abu Thalib
namun aku tidak mengizinkan mereka, kemudian aku tidak mengizinkan mereka,
kemudian aku tidak mengizinkan mereka (sebanyak tiga kali), kecuali jika Ali
bin Abu Thalib menceraikan anakku dan menikahi putri mereka. Ia (Fatimah)
adalah darah dagingku, orang yang melukai (perasaan) nya berarti melukaiku, dan
orang yang menyakitinya berarti telah menyakitiku."
HADIS KE-29 “MENIKAHI WANITA YANG SEPADAN”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا فَاطِمَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّهَا صَغِيرَةٌ فَخَطَبَهَا عَلِيٌّ فَزَوَّجَهَا مِنْهُ.[29]
Artinya: “Dari
Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, Abu Bakar dan Umar
radhiallahu'anhuma melamar Fathimah, lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya ia masih kecil, " lalu Ali
melamarnya dan beliau menikahkannya dengan Ali.”
HADIS KE-30 “WANITA PENCEMBURU”
عَنْ أَنَسٍ قَالُوا يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَلَا تَتَزَوَّجُ مِنْ نِسَاءِ الْأَنْصَارِ قَالَ إِنَّ فِيهِمْ
لَغَيْرَةً شَدِيدَةً.[30]
Artinya: “Dari
Anas, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menikah dengan
wanita Anshor? Beliau menjawab, "Sesungguhnya mereka memiliki kecemburuan
yang besar.”
HADIS KE-31 “JANGANLAH WANITA BERPERGIAN KECUALI DENGAN MAHRAMNYA”
حَدَّثَنَا يَعْلَى حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ سَفَرًا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا
إِلَّا وَمَعَهَا أَبُوهَا أَوْ أَخُوهَا أَوْ زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ
مِنْهَا [31]
Artinya: “Dari
Abu Sa'id ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,
"Tidak boleh seorang wanita bepergian selama tiga hari atau lebih kecuali
bersama ayah, saudara, suami atau mahramnya.”
HADIS KE-32 “PERANGNYA WANITA BERSAMA LELAKI”
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أُدَاوِي الْجَرِيحَ أَوْ الْجَرْحَى
وَأَصْنَعُ لَهُمْ الطَّعَامَ وَأَخْلُفُهُمْ فِي رِحَالِهِمْ.[32]
Artinya: “Dari
Ummu 'Athiyah, ia berkata, aku berperang bersama Nabi Saw. sebanyak tujuh peperangan. Aku bertugas mengobati pasukan yang
terluka serta membuatkan makanan untuk mereka dan menggantikan dipersinggahan
mereka.”
HADIS KE-33 “MENCUMBU WANITA HAIDH”
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ
الْيَهُودَ كَانَتْ إِذَا حَاضَتْ مِنْهُمْ امْرَأَةٌ أَخْرَجُوهَا مِنْ الْبَيْتِ
وَلَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُشَارِبُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهَا فِي الْبَيْتِ
فَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ
فَأَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:
{ وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ
أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ }
إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَامِعُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ وَاصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ غَيْرَ
النِّكَاحِ فَقَالَتْ الْيَهُودُ مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ شَيْئًا
مِنْ أَمْرِنَا إِلَّا خَالَفَنَا فِيهِ فَجَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ
وَعَبَّادُ بْنُ بِشْرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا أَفَلَا
نَنْكِحُهُنَّ فِي الْمَحِيضِ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ قَدْ وَجَدَ عَلَيْهِمَا فَخَرَجَا
فَاسْتَقْبَلَتْهُمَا هَدِيَّةٌ مِنْ لَبَنٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمَا فَظَنَنَّا أَنَّهُ لَمْ يَجِدْ
عَلَيْهِمَا.[33]
Artinya: “Dari
Anas bin Malik bahwa orang-orang Yahudi apabila seorang istri mengalami haid
maka mereka mengeluarkannya dari rumah, dan tidak makan bersamanya, tidak
mengajaknya bermusyawarah, dan tidak menggaulinya di rumah. Kemudian Rasulullah
Saw. ditanya mengenai hal tersebut, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala
menurunkan ayat:
"Mereka bertanya kepadamu tentang haid.
Katakanlah, "Haid itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah
kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid."
Hingga akhir ayat. Rasulullah Saw. bersabda, "Bergaullah dengan mereka di rumah dan lakukan
segala sesuatu selain bersenggama. Tidaklah orang ini ingin meninggalkan
sesuatu yang berasal dari urusan kita melainkan untuk menyelisihi kita.”
Kemudian Usaid bin Hudhair serta 'Abbad bin Bisyr datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi
mengatakan demikian dan demikian, tidakkah kita bercampur dengan mereka (para
istri) di saat sedang haid? Maka merah padam wajah Rasulullah Saw. hingga kami menyangka beliau telah murka kepada mereka. Kemudian
mereka berdua keluar, kemudian mereka berpapasan dengan hadiah susu yang
diberikan kepada Rasulullah Saw. kemudian
beliau mengirim seseorang agar mengejar mereka berdua, hingga kami menyangka
bahwa beliau tidak murka kepada mereka.”
HADIS KE-34 “MENIKAHI GADIS”
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ
لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَزَوَّجْتَ قُلْتُ
نَعَمْ قَالَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا فَقُلْتُ ثَيِّبًا قَالَ أَفَلَا بِكْرٌ
تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ.[34]
Artinya: “Dari
Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah Saw. berkata
kepadaku, "Apakah engkau telah menikah?" Aku katakan; Iya. Beliau
bertanya, "Gadis atau janda?" Aku katakan; “Janda.” Beliau berkata,
"Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis, sehingga engkau dapat
bercanda dengannya dan dia bercanda denganmu?"
HADIS KE-35 “JIKA SEORANG WANITA MEMILIKI TIGA KALI MASA HAIDH
DALAM SEBULAN (ISTHIHADHOH), APA YANG HARUS DILAKUKAN”
عنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ سَأَلَتْ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلَا
أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَكِنْ دَعِي
الصَّلَاةَ قَدْرَ الْأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا ثُمَّ اغْتَسِلِي
وَصَلِّي.[35]
Artinya: “Dari 'Aisyah bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy bertanya
kepada Nabi Saw, “Aku mengeluarkan darah istihadlah
(penyakit). Apakah aku tinggalkan salat?” Beliau menjawab, "Jangan, karena
itu hanyalah darah dari urat (yang terluka). Tinggalkanlah salat selama masa
haidmu, setelah itu mandi dan kerjakanlah salat.”
HADIS KE-36 “PELAYANAN SUAMI UNTUK ISTRI”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ
الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ
سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ
قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ خَرَجَ.[36]
Artinya: “Dari
Al Aswad bin Yazid ia berkata, Aku bertanya kepada Aisyah ra. mengenai apa saja
yang dilakukan Nabi Saw. di rumah. Maka ia pun menjawab, “Beliau
turut membantu pekerjaan keluarganya, dan bila beliau mendengar azan, beliau
pun keluar.”
HADIS KE-37 “PEKERJAAN ISTRI DI RUMAH SUAMINYA”
حَدَّثَنَا عَلِيٌّ أَنَّ فَاطِمَةَ
عَلَيْهِمَا السَّلَام أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَشْكُو إِلَيْهِ مَا تَلْقَى فِي يَدِهَا مِنْ الرَّحَى وَبَلَغَهَا أَنَّهُ
جَاءَهُ رَقِيقٌ فَلَمْ تُصَادِفْهُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ فَلَمَّا جَاءَ
أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ قَالَ فَجَاءَنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا
فَذَهَبْنَا نَقُومُ فَقَالَ عَلَى مَكَانِكُمَا فَجَاءَ فَقَعَدَ بَيْنِي
وَبَيْنَهَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى بَطْنِي فَقَالَ أَلَا
أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا
أَوْ أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا فَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاحْمَدَا
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ
خَادِمٍ.[37]
Artinya: “Menceritakan
kepada kami Ali bahwa Fathimah 'Alaihimas Salam datang menemui Nabi Saw. mengadukan tangannya yang mengeras karena menggiling. Fathimah
pernah mendengar kabar bahwa Nabi Saw. pernah mendapatkan budak, kebetulan ia malah tidak kesana. Fathimah pun
menuturkan hal itu pada Aisyah. Ketika Rasulullah Saw.
datang, maka Aisyah pun menuturkannya. Kemudian beliau mendatangi kami yang
pada saat itu kami sudah bersiap-siap untuk tidur, maka kami pun segera
beranjak. Beliau bersabda, “Tetaplah pada tempat kalian.” Beliau datang lalu
duduk tepat antara aku dan Fathimah hingga aku merasakan kesejukan kedua kakinya.
Dan beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan pada sesuatu yang lebih baik
daripada apa yang kalian minta? Bila kalian hendak beranjak ke tempat tidur,
maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali
serta bertakbir tiga puluh empat kali. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian
daripada seorang pembantu.”
HADIS KE-38 “JIKA SEORANG WANITA BERMIMPI BASAH”
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي
طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ
مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ.[38]
Artinya: “Dari Ummu Salamah Ummul Mukminin, bahwa ia berkata,
"Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu
dengan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi bila bermimpi?” Maka
Rasulullah Saw. menjawab, “Ya. Jika dia melihat
air.”
HADIS KE-39 “BAGAIMANA BAIATNYA WANITA”
عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ عَنْ بَيْعَةِ النِّسَاءِ قَالَتْ مَا مَسَّ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ امْرَأَةً قَطُّ
إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ عَلَيْهَا فَإِذَا أَخَذَ عَلَيْهَا فَأَعْطَتْهُ قَالَ
اذْهَبِي فَقَدْ بَايَعْتُكِ.[39]
Artinya: “Dari 'Urwah, bahwa 'Aisyah, telah mengabarkan kepadanya
mengenai proses pembaiatan terhadap kaum wanita, dia berkata, “Rasulullah Saw. tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita manapun, beliau hanya
mengambil baiat dari mereka. Ketika mereka telah memberikan baiatnya kepada
beliau, maka beliau bersabda, “Pergilah, sungguh aku telah membaiat kamu.”
HADIS KE-40
“JIKA WANITA YANG SEDANG HAIDH MELIHAT TANDA-TANDA SUCI”
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ
فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي.[40]
Artinya: “Dari 'Aisyah, ia berkata: Nabi Saw. bersabda: “Bila tiba waktu haid, maka tinggalkanlah salat, dan bila
telah berakhir, bersihkanlah darah darimu, lalu salatlah.”

Komentar
Posting Komentar