Contoh Makalah tentang Pemakaian Huruf dan Kata (B. Indonesia)
PEMAKAIAN DAN PENGGUNAAN HURUF DAN KATA
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kemampuan berbahasa Indonesia adalah
salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, terlebih mahasiswa.
Banyak dari mahasiswa justru mengabaikan dan menganggap pelajaran Bahasa
Indonesia tidak terlalu penting. Hal yang
melatar belakangi kelompok 3 dalam menyelesaikannya makalah yang berjudul Pemakaian
dan Penggunaan Huruf dan Kata ini, adalah untuk mengungkapkan seberapa
pentingnya EYD ini dipergunakan dalam berbahasa Indonesia..
B.
Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang
dikemukakan berdasarkan latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1.
Apa
saja kaidah pemakaian huruf yang sesuai dengan EYD?
2.
Bagaimana
kaidah penulisan huruf dan kata dalam Bahasa Indonesia?
3.
Mengapa
penggunaan kaidah yang sesuai dengan EYD itu penting?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui tata cara pemakaian huruf dan kata yang sesuai dengan EYD.
2.
Untuk
mengetahui kaidah penulisan yang sesuai dengan EYD.
3.
Menginformasikan
pentingnya mempelajari EYD.
II.
PEMBAHASAN
A.
Pemakaian huruf
Huruf yang dipakai dalam bahasa
Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu huruf konsonan dan huruf vokal. Jumlah
huruf konsonan ada 26 huruf dan huruf vokal ada 5 huruf. Di samping itu,
terdapat 3 diftong, yaitu ai, au, dan oi, dan 4 gabungan huruf konsonan, yaitu
kh, ng, ny, dan sy. Ambillah contoh penyebutan huruf c. Huruf sesudah b itu
lebih sering disebut /se/ daripada /ce/. Padahal, penyebutan yang benar adalah
/ce/. Begitu pula penyebutan huruf q. Huruf yang seharusnya disebut ki itu
sering disebut kiu.
Orang sering melakukan kesalahan
pula ketika membaca singkatan AC dan WC. Kebanyakan orang membaca singkatan itu
dengan a-se dan we-se. Seharusnya, kedua singkatan itu dibaca a-ce dan we-ce.
Di atas telah disebutkan bahwa dalam
bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan
sy. Penggunaan gabungan huruf konsonan selain itu tidak baku, kecuali nama. Di
bawah ini diberikan contoh kata yang tidak baku karena menggunakan gabungan huruf
konsonan yang baku.
|
Tidak Baku |
Baku |
|
dharma |
darma |
|
wudhu |
wudu |
|
maghrib |
magrib |
|
shalat/sholat |
salat |
|
ashar |
asar |
Dharma Wanita adalah nama, yaitu
nama organisasi. Nama, baik nama orang, nama organisasi, maupun nama diri
lainnya, tidak perlu dipersoalkan. Dengan kata lain, nama diberi kebebasan.
Begitu pula semboyan yang diambil dalam bahasa asalnya. Misalnya, semboyan
bhinneka tunggal ika yang ditulis dengan bh atau ing ngarsa sung tuladha yang
ditulis dengan dh tidak perlu disalahkan. Yang perlu diatur adalah penulisan
kata yang digunakan secara umum. (Sriyanto, 2019: 17)
Jadi, kenanya kita lebih
memperhatikan kesalahan baik dalam menulis, maupun melafalkan huruf.
Memperhatikan kaidah yang sesuai dengan EYD. Dan semua itu dapat dimulai dengan rajin membaca artikel-artikel
Bahasa, dan media ilmiah lainnya.
B.
Kaidah Penulisan Huruf dan
Kata
Dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan, penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1) penulisan
huruf besar atau huruf kapital dan (2) penulisan huruf miring.
1. Penulisan Huruf Besar atau
Huruf Kapital
Penulisan huruf kapital yang sering
kita jumpai dalam tulisan-tulisan resmi kadang-kadang menyimpang dari kaidah-kaidah
yang berlaku. Kaidah penulisan huruf
kapital adalah sebagai berikut.
a.
Huruf
besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kalimat berupa petikan
langsung. Misalnya: Dia bertanya, “Kapan kita pulang?”
b.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan
hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti-Nya. Misalnya:
Limpahkanlah rahmat-Mu, ya Allah.
c.
Huruf
besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar (kehormatan,
keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang. Misalnya:
Pergerakan itu dipimpin oleh Haji Agus Salim.
Catatan: Jika tidak diikuti oleh nama orang atau wilayah, nama gelar,
jabatan, dan pangkat itu harus dituliskan dengan huruf kecil. Misalnya: Calon
Jemaah haji DKI tahun ini berjumlah 525 orang.
2.
Penulisan Huruf Miring
a.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat
kabar yang dikutip dalam karangan. Biasa juga ditandai dengan garis bawah satu.
Misalnya: Buku Negarakertagama dikarang oleh Mpu Prapanca.
b.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama-nama ilmiah atau
ungkapan bahasa asing atau bahasa daerah, kecuali yang disesuaikan ejaannya.
Misalnya: Ungkapan Wilujeng sumping dalam bahasa Sunda
berarti ‘Selamat datang’. (E. Zaenal Arifin, 2008:167).
3.
Penulisan Kata
a.
Penulisan
Kata Ulang.
Misalnya: Kupu-kupu, berlari-lari, sayur-mayur, porak-poranda.
Catatan: Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur
pertama. Misalnya: Rak sepatu rak-rak sepatu
Kereta bawah tanah
kereta-kereta bawah tanah
b.
Penulisan
Gabungan Kata
1)
Unsur
gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis
terpisah. Misalnya: Panjang tangan, meja makan, persegi empat.
2)
Gabungan
kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda
hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya: Anak-istri pejabat
Anak istri-pejabat
c.
Penulisan
Partikel
1)
Partikel
–lah, -kah, -tah, ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya. Misalnya: kau pergilah dari sini sekarang juga.
2)
Partikel
pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Engkau pun
bisa kuliah di perguruan tinggi
3)
Partikel
per yang berarti “demi”, “tiap”, atau “mulai” ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya. Misalnya: saya harus membayar utang kontrakan per tahun.
d.
Penulisan
Singkatan dan Akronim
1)
Singkatan
nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik
pada setiap unsur singkatan.
Misalnya: W.R. Supratman
Wage Rudolf Supratman
2)
Singkatan
terdiri atas huruf awal setiap kata.
Misalnya:
NKRI Negara Kesatuan Republik
Indonesia
3)
Akronim
bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan
suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu pemilihan umum (Afnita, 2019:31).
C. Pentingnya
Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan
Pentingnya memahami penggunaan ejaan bahasa
yang baik dan benar merupakan syarat mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah
karena merupakan alat komunikasi ilmiah yang pokok. Kelemahan dan kurangnya
pengetahuan tentang EYD tentunya akan mempersulit bagi seorang ilmuwan untuk
menyampaikan gagasan atau pikirannya kepada orang lain.
Berikut ini beberapa alasan mengapa penggunaan kaidah EYD menjadi hal yang utama:
1. Agar kualitas tulisan rapi
dan memudahkan pembaca dalam memahami isi tulisan.
2.
Membantu menyusun tulisan tertata secara
sistematis dan runtut.
3. Kredibilitas penulis
dalam dunia penulisan dan akademik.
4. Menyatukan keseragaman
Bahasa.
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana
kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia dan agar Bahasa Indonesia
tidak luntur. Karena banyak dari kita telah terpengaruh oleh budaya asing yang
cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda. Terutama untuk selalu berkarya,
baik berbentuk tulis maupun non tulisan. Akan tetapi, dalam dunia tulis menulis
di kalangan mahasiswa, masih banyak kerancuan-kerancuan yang menyimpang dari
kaidahnya. Apa lagi budaya menulis yang sesuai kaidah EYD sudah mulai
terlupakan akibat dari kemajuan teknologi dan informatika yang bersifat instan.
Maka dari itu, mari kita mulai untuk terus menggunakan kaidah penulisan yang
baik dan sesuai EYD. Agar, Bahasa Indonesia selalu terjaga keberadaannya.
B. Saran
Sebagai mahasiswa yang baik, kenanya
kita harus serius dalam mempelajari kaidah-kaidah penulisan. Baik dalam penggunaan huruf maupun penggunaan
kata. Karena itu merupakan cermin utama dari sebuah Bahasa dan pengetahuan.
Karena cenderung seseorang akan dihargai tulisannya, jika tulisannya tersebut
telah sesuai dengan kaidah penulisan yang baik. Adapun banyak sekali cara untuk
terus mempelajari kaidah penulisan yang baik, tidak hanya dengan belajar
dikelas. Hal tersebut juga bisa dilakukan
dengan membaca buku, ataupun membaca artikel-artikel ilmiah.
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. (2008). Cermat Berbahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Gusnayetti, G. (2020). Pentingnya Penggunaan Bahasa Indonesia Di
Perguruan Tinggi. Ensiklopedia of Journal, 2(3), 16-21.
Kumparan.com. (2022, 25 Desember). Pengertian dan Pentingnya
Kaidah Ejaan bagi Penutur Bahasa Itu Sendiri. Diakses pada 29 September
2023, dari
https://kumparan.com/berita-terkini/pengertian-dan-pentingnya-kaidah-ejaan-bagi-penutur-bahasa-itu-sendiri-1zVD5ecevnO/2.
Nusa, S., & Kii, W. Y. (2017). Memahami Fenomena Lemahnya
Keterampilan Berbahasa Mahasiswa STKIP Weetebula. Jurnal Edukasi Sumba
(JES), 1(1), 1-2
Sriyanto, (2019). EJAAN: Buku Seri
Penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.
Komentar
Posting Komentar